Tak banyak yang mengenal jenis musik Acapella. Apalagi di
negeri yang majemuk ini. Grup musik acapella yang terkenal terhitung dengan
jari. Itu pun tertutup oleh dominasi boyband dan girlband lipsynch.
Berbeda dengan Indonesia, di Negara Negara barat musik
acapella cukup berkembang pesat. Dibuktikan dengan saat ini muncul kontes vocal
berbasis acapella bertajuk, Sing Off. Meskipun jarang mengikutinya, saya tahu
kualitas acapella di luar negeri terus berkembang kreativitasnya. Jika dulu
kita mengenal BoyzIIMen, All 4 One, atau Neri Percaso, saat ini sejak Sing Off
digelar selama 3 musim setidaknya ada belasan grup musik acapella yang eksis
dan mempunyai banyak penggemar, seperti Pentatonix (Jawara Sing Off).
Pada dasarnya, Acapella merupakan teknik bernyanyi tanpa
diiringi alat musik. Acapella juga dikenal sebagai musik gospel atau musik
religious Kristen. Namun saat ini, orang orang yahudi dan muslim juga tidak
mengiringi nyanyian nyaian religinya dengan instrument musik. Khususnya pemuda
pemuda muslim banyak yang menyanyikan lagu religi dengan teknik acapella yang
dikenal dengan nasyid. Meskipun tidak semua tim nasyid bernyanyi secara
acapella.
Sejarah Acapella
Dari beberapa website, secara harfiah a capella berarti
Sesuai gaya Kapel. Dulu memang teknik ini dikembangkan oleh imigran Afrika yang
sebelumnya telah terbiasanya bernyanyi pada pesta pesta di suku pedalaman.
Mereka yang menjadi budak orang orang bule ini kemudian menirukan orang orang
Kaukasia (bule) yang sering bernyanyi di Kapel atau gereja dengan instrument
musik.
Karena para imigran ini tidak mampu membeli berbagai
instrument musik, jadilah mereka menirukan suara suara alat musik tersebut
hingga terdengar harmonis. Akhirnya teknik bernyanyi ini ditiru oleh orang
orang Eropa hingga Asia.
Saya dan Acapella
Ketertarikan saya pada musik acapella berawal ketika malam
Inagurasi di saat ospek ketika kuliah di Politeknik Gajah Tunggal, Tangerang.
Saat itu saya melihat sekelompok kakak kelas tampil memebawakan lagu secara
acapella yang menurut saya saat itu sangat keren sekali. Akhirnya saya dan
beberapa teman pun mencoba bergabung dengan kakak kakak tersebut. Dibawah
asuhan mereka kami membentuk sebuah grup acapella yang saat itu bernama
Shousil-23 dan sempat menjuarai beberapa festival nasyid lokal dan regional. Kami
juga sempat mewakili Banten di ajang Festival Nasyid Indonesia yang ditayangkan
TVRI tahun 2005 lalu.
Saat ini Shousil-23 sudah berganti personil dan berubah nama
menjadi Nasyid TIRTA, meskipun tidak seaktif dulu mengisi berbagai acara
pernikahan, tabligh akbar, hingga kampanye partai politik.
Nasyid TIRTA - Andai Ku Tahu (Cover Ungu)
Tips Khusus Belajar Acapella
Saya dan teman teman sebenarnya belajar secara otodidak
dengan konsep ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Modal utama untuk menjadi penyanyi
atau membentuk grup musik acapella professional adalah punya pendengaran dan
feeling musik yang bagus. Kalau suara sih jutsru kita butuh berbagai jenis
suara, bukan sebagus apa suaranya :-D
Yang namanya grup terdiri dari beberapa orang. Begitu pula
dengan acapella yang harus terdiri dari minimal 4 orang. Untuk jumlah maksimal
memang tak dibatasi. Beberapa peserta Sing Off bahkan memiliki jumlah anggota
lebih dari 10 orang. Setiap anggota memiliki peran tersendiri. Komposisinya
yakni Rhythm, Lead Vocal, Bassist, dan Beatbox. Untuk Bas dan Beatbox tidak
wajib ada, bisa salah satunya saja.
Rhythm yang bertindak sebagai backing vocal harus membagi
suaranya menjadi Tenor dan Bariton agar terdengar harmonis. Harmonisasi disini
dibentuk oleh nada Do-Mi-Sol membentuk suatu Chord pada alat musik seperti
gitar. Selain rajin latihan, jam terbang juga dapat membantu membangun
harmonisasi dan chemistry antar anggota grup.
Selanjutnya, semoga musik acapella di Indonesia semakin
berkembang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar