TEORI MOTIVASI
Motivasi merupakan kata "ajaib". Sebab kata "motivasi" mengandung
makna"tiada tapi ada". Motivasi sulit dibuktikan secara kasat mata
keberadaannya dalam diri kita Tidak pernah terlihat dalam penampilan
kita (karena yang Anda lihat dalam penampilan seseorang sebetulnya bukan
motivasi, tapi gejala motivasi). Tersimpan rapi dalam lubuk "misteri"
kemanusiaan. Namun walau motivasi tak kasat mata, tapi keberadaannya
diakui, baik secara ilmiah maupun awam. Bukan hanya diakui, tapi juga
dianggap sebagai salah satu faktor yang paling bertanggung jawab
terhadap keberadaan manusia itu sendiri.
Manusia bisa dikatakan manusia karena ia (salah satunya) memiliki
motivasi. Makhluk hidup lainnya tak memiliki motivasi. Jikapun makhluk
hidup lainnya, seperti binatang misalnya, dianggap memiliki motivasi,
maka itu hanyalah "motivasi pada tingkat yang amat rendah". Istilah yang
lebih tepatnya mungkin adalah insting (naluri). Namun motivasi pada
manusia berbeda dengan "motivasi" pada makhluk hidup lainnya. Motivasi
pada manusia sangat luar biasa, la tak memiliki batas, la tak terhingga.
Sampai saat ini belum ada orang yang mampu mengukur sampai sejauh mana
batas motivasi manusia. Bahkan motivasi mampu menembus berbagai "batas"
yang dibuat alam dan manusia itu sendiri. Inilah "ajaibnya" motivasi
pada diri manusia.
"Keajaiban" motivasi membuat peradaban ma¬nusia selalu berubah setiap
saat Motivasi dituding sebagai pihak yang paling bertanggung jawab
terhadap perubahan peradaban manusia. Setiap perubahan, baik dalam
lingkup pribadi, organisasi, masyarakat, negara, dan dunia membutuhkan
motivasi sebagai pemicu awalnya. Tanpa motivasi perubahan tak akan
terjadi. Dan tanpa perubahan tak mungkin manusia bisa memiliki
peradaban. Tanpa peradaban manusia tak ubahnya bagai binatang. Manusia
dapat bergerak menuju peradaban yang semakin maju karena motivasi.
Karena itu, motivasi merupakan faktor terpenting yang membuat manusia
(dalam pengertian wujud) berubah menjadi manusia yang sesungguhnya
(dalam pengertian kualitas). Tanpa motivasi, manusia tak ubahnya bagai
binatang berkaki dua.
Apakah Motivasi Itu?
Bayangkanlah sebuah komputer yang diciptakan dan dibangun oleh otak
paling jenius yang dimiliki sejumlah orang. Komputer yang diciptakan
sebesar lapangan sepak bola. Harganya sangat mahal. Teknologinya sangat
canggih. Semua orang akan terkagum-kagum dibuatnya. Tapi tahukah Anda
bahwa setiap orang memiliki "komputer" semacam itu dalam dirinya? Itulah
otak manusia.
Namun sayangnya, otak manusia belum seluruhnya termanfaatkan. Otak
manusia yang demikian dashyat tersebut masih "tidur". Kalangan peneliti
terus menerus mengeluarkan pernyataan bahwa sampai saat ini baru bagian
amat kecil dari otak manusia yang dipahami dan dimanfaatkan. Mungkin,
pada dasawarsa ini pengetahuan dan pemanfaatan otak manusia akan lebih
optimal.
Lalu apa hubungannya antara otak manusia dengan motivasi? Karena
motivasi muncul dari otak manusia. Motivasi merupakan salah satu kerja
otak. jika otak manusia itu ibarat komputer canggih, maka motivasi yang
muncul dari otak juga "canggih". Motivasi merupakan gabungan dari
berbagai faktor yang menyebabkan, menyalurkan, dan mempertahankan
tingkah laku. Motivasi merupakan dorongan untuk melakukan sesuatu. la
mampu mendorong seseorang untuk berbuat atau tidak berbuat. Mampu
membuat manusia semangat atau tidak semangat melakukan sesuatu. Motivasi
dapat naik dan turun sesuai "perintah" otak. Ketika motivasi meningkat,
maka dorongan untuk bertingkah laku tertentu juga meningkat Sebaliknya,
ketika motivasi menurun (lemah), maka dorongan untuk melakukan tingkah
laku tertentu juga menurun.
Setiap orang pasti memiliki motivasi. Motivasi setiap orang berbeda
tingkatannya tergantung dari stimulus (rangsangan) yang diberikan otak
kepadanya. Selain berbeda tingkatannya, motivasi juga memiliki objek
(sasaran) yang berbeda bagi setiap orang. Belum tentu setiap orang
memiliki sasaran motivasi yang sama dengan tingkatan yang sama pula.
Sebagai contoh, ada orang yang termotivasi dengan uang (terdorong
melakukan sesuatu karena diberikan uang), tapi ada juga yang tidak. Yang
termotivasi dengan uangpun berbeda-beda tingkatannya,ada yang tinggi
tingkatan motivasinya, tapi ada juga yang biasa-biasa saja tingkatan
motivasinya terhadap uang.
Motivasi juga sangat berkaitan dengan kemampuan. Hal itu karena ada
kemampuan yang terdapat pada orang yang memiliki motivasi tinggi.
Sebagai misal, pernahterjadi kecelakaan mobil yang menimpa seorang i dan
bayinya. Mobil yang dikemudikan sang ibu terbalik dan berhenti dalam
posisi miring. Sang ibu sendiri terlempar ke luar tanpa cidera berarti,
sementara bayinya berada di dalam mobil persis di bagian sisi mobil yang
miring. Ketika regu penolong sampai di tempat kejadian, sang ibu
terlihat bersimpuh sambil mendekap dan menimang bayinya, yang juga tidak
cidera. Mereka langsung dilarikan ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan
rumah sakit menunjukkan bahwa tulang belakang si ibu retak. Kemudian
kejadiannya menjadi jelas. Sang ibu yang berperawakan kecil itu
membalikkan mobilnya ke posisi dengan empat rodanya di bawah, lalu
dengan susah payah mengeluarkan bayinya dari dalam mobil dengan
menggunakan kedua kakinya. Dalam upaya mengeluarkan bayinya itulah
tulang belakang sang ibu retak. Dalam keadaan normal, tidaklah masuk
akal bahwa seorang wanita berperawakan kecil mampu melakukan itu. Sang
ibu tidak mempunyai kekuatan fisik atau otot. Tetapi ia sesungguhnya
memiliki kekuatan motivasi.
Dari cerita tersebut terlihat bahwa motivasi dapat menjadi kemampuan
atau kekuatan yang dapat membuat seseorang melakukan apa yang pada
awalnya tidak masuk akal atau tidak mampu dikerjakan. Dengan kekuatan
motivasi, seseorang dapat mencapai apa yang diinginkannya, sebesar
apapun keinginannya tersebut. Inilah "keajaiban" motivasi.
Bayangkanlah sebuah komputer yang diciptakan dan dibangun oleh otak
paling jenius yang dimiliki sejumlah orang. Komputer yang diciptakan
sebesar lapangan sepak bola. Harganya sangat mahal. Teknologinya sangat
canggih. Semua orang akan terkagum-kagum dibuatnya. Tapi tahukah Anda
bahwa setiap orang memiliki "komputer" semacam itu dalam dirinya? Itulah
otak manusia.
Namun sayangnya, otak manusia belum seluruhnya termanfaatkan. Otak
manusia yang demikian dashyat tersebut masih "tidur". Kalangan peneliti
terus menerus mengeluarkan pernyataan bahwa sampai saat ini baru bagian
amat kecil dari otak manusia yang dipahami dan dimanfaatkan. Mungkin,
pada dasawarsa ini pengetahuan dan pemanfaatan otak manusia akan lebih
optimal.
Lalu apa hubungannya antara otak manusia dengan motivasi? Karena
motivasi muncul dari otak manusia. Motivasi merupakan salah satu kerja
otak. jika otak manusia itu ibarat komputer canggih, maka motivasi yang
muncul dari otak juga "canggih". Motivasi merupakan gabungan dari
berbagai faktor yang menyebabkan, menyalurkan, dan mempertahankan
tingkah laku. Motivasi merupakan dorongan untuk melakukan sesuatu. la
mampu mendorong seseorang untuk berbuat atau tidak berbuat. Mampu
membuat manusia semangat atau tidak semangat melakukan sesuatu. Motivasi
dapat naik dan turun sesuai "perintah" otak. Ketika motivasi meningkat,
maka dorongan untuk bertingkah laku tertentu juga meningkat Sebaliknya,
ketika motivasi menurun (lemah), maka dorongan untuk melakukan tingkah
laku tertentu juga menurun.
Setiap orang pasti memiliki motivasi. Motivasi setiap orang berbeda
tingkatannya tergantung dari stimulus (rangsangan) yang diberikan otak
kepadanya. Selain berbeda tingkatannya, motivasi juga memiliki objek
(sasaran) yang berbeda bagi setiap orang. Belum tentu setiap orang
memiliki sasaran motivasi yang sama dengan tingkatan yang sama pula.
Sebagai contoh, ada orang yang termotivasi dengan uang (terdorong
melakukan sesuatu karena diberikan uang), tapi ada juga yang tidak. Yang
termotivasi dengan uangpun berbeda-beda tingkatannya,ada yang tinggi
tingkatan motivasinya, tapi ada juga yang biasa-biasa saja tingkatan
motivasinya terhadap uang.
Motivasi juga sangat berkaitan dengan kemampuan. Hal itu karena ada
kemampuan yang terdapat pada orang yang memiliki motivasi tinggi.
Sebagai misal, pernahterjadi kecelakaan mobil yang menimpa seorang i dan
bayinya. Mobil yang dikemudikan sang ibu terbalik dan berhenti dalam
posisi miring. Sang ibu sendiri terlempar ke luar tanpa cidera berarti,
sementara bayinya berada di dalam mobil persis di bagian sisi mobil yang
miring. Ketika regu penolong sampai di tempat kejadian, sang ibu
terlihat bersimpuh sambil mendekap dan menimang bayinya, yang juga tidak
cidera. Mereka langsung dilarikan ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan
rumah sakit menunjukkan bahwa tulang belakang si ibu retak. Kemudian
kejadiannya menjadi jelas. Sang ibu yang berperawakan kecil itu
membalikkan mobilnya ke posisi dengan empat rodanya di bawah, lalu
dengan susah payah mengeluarkan bayinya dari dalam mobil dengan
menggunakan kedua kakinya. Dalam upaya mengeluarkan bayinya itulah
tulang belakang sang ibu retak. Dalam keadaan normal, tidaklah masuk
akal bahwa seorang wanita berperawakan kecil mampu melakukan itu. Sang
ibu tidak mempunyai kekuatan fisik atau otot. Tetapi ia sesungguhnya
memiliki kekuatan motivasi.
Dari cerita tersebut terlihat bahwa motivasi dapat menjadi kemampuan
atau kekuatan yang dapat membuat seseorang melakukan apa yang pada
awalnya tidak masuk akal atau tidak mampu dikerjakan. Dengan kekuatan
motivasi, seseorang dapat mencapai apa yang diinginkannya, sebesar
apapun keinginannya tersebut. Inilah "keajaiban" motivasi.
Berbagai Teori tentang Motivasi
Sejak dahulu manusia sebenarnya telah bergelut dengan motivasi. Namun
baru pada dasawarsa 1950-an, konsep-konsep motivasi secara ilmiah mulai
berkembang. Secara garis besar teori motivasi terbagi menjadi dua, Teori
Kepuasan/Isi (Content Theory) dan Teori Proses (Process Theory).
1. Teori Kepuasan (Content Theory)
Yang termasuk teori ini adalah teori-teori yang meneliti faktor-faktor
apa saja dalam diri induvidu yang menggerakkan, mengarahkan, mendukung,
danmenghentikan perilaku induvidu. Diantara teori kepuasan adalah:
a. Teori Hirarki Kebutuhan Maslow (Maslov's Hkrordhy of Needs).
Teori ini dikembangkan oleh Abraham Maslow. Maslow berpendapat ada lima
tingkat kebutuhan manusia, mulai dari kebutuhan fisiologis yang paling
mendasar sampai kebutuhan tertinggi yaitu aktualisasi diri. Menurut
Maslow, induvidu akan termotivasi untuk memenuhi kebutuhan yang paling
menonjol, atau paling kuat, bagi mereka pada waktu tertentu.
Kemenonjolan dari kebutuhan ini tergantung pada situasi saat itu dan
pengalaman mutakhir induvidu tersebut Dimulai dengan kebutuhan fisik
(sandang dan pangan) yang paling mendasar, maka setiap induvidu berusaha
untuk memuaskan kebutuhannya. Setelah puas, baru induvidu tersebut
mempunyai keinginan untu memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi lagi.
Yang menarik, diakhir hidupnya Maslow mena bahkan teorinya dengan satu
kebutuhan ya berdimensi spritual. Maslow akhirnya mengak bahwa manusia
tak akan puas hanya dengan memenu kebutuhan yang berdimensi material dan
duniawi. Manusia akhirnya akan membutuhkan sesuatu yang bernilai
spritual dan religius (ketuhanan).
b. Teori X dan Y (XY Theory)
Teori ini dikemukakan oleh Douglas Mc Gregor. la mengatakan ada dua tipe
manusia, yaitu tipe X dan tipe Y. Tipe X adalah manusia yang tidak
menyukai kerja, malas, tidak menyukai tanggung jawab dan harus dipaksa
agar berprestasi. Sebaliknya, manusia tipe Y adalah manusia yang
menyukai kerja, kreatif, berusaha bertanggung jawab dan dapat bekerja
tanpa perlu dipaksa. Mc Gregor sendiri meyakini bahwa pengandaian
manusia tipe Y lebih valid daripada tipe X. Karena itu, ia mengusulkan
ide-ide seperti pengambilan keputusan partisipatif, pekerjaan yang
bertanggung jawab dan menantang, serta hubungan kelompok yang baik,
sebagai pendekatan yang akan memaksimalkan motivasi seseorang.
c. Teori ERG (ERG Theory)
Teori yang disampaikan oleh Clayton Alderfer ini berpendapat bahwa
setiap orang mempunyai kebutuhan yang tersusun dalam suatu hirarki.
Pertama, yang paling dasar adalah kebutuhan eksistensi (Existence),
yakni kebutuhan yang dipuas¬kan oleh faktor-faktor seperti makanan,
minuman, udara, upah dan kondisi kerja. Kedua, kebutuhan relasi
(Relatedness), yakni kebutuhan yang dipuaskan oleh hubungan sosial yang
bermanfaat. Ketiga, kebutuhan pertumbuhan (Growth), yaitu kebutuhan
dimana induvidu merasa puas jika dapat memberikan kontribusi yang
kreatif dan produktif. Teori ERG berpendapat seperti Maslow bahwa
kebutuhan tingkat lebih rendah yang terpuaskan menghantar ke hasrat
kebutuhan yang lebih tinggi. Namun halangan terhadap kebutuhan yang
lebih tinggi dapat menghasilkan regresi ke tingkat kebutuhan yang lebih
rendah.
d. Teori Kebutuhan Mc. Gel land (Mc Clelland Theory)
Mc. Clelland mengajukan teori motivasi yang berkaitan erat dengan konsep
belajar, la berpendapat ada tiga kebutuhan yang dapat dipelajari,
yaitukebutuhan berprestasi (need for achievement), kebutuhan berkuasa
(need for power) dan kebutuhan berafiliasi (need foraffiliation). Mc
Clelland mengatakan bahwa jika kebutuhan seseorang sangat kuat, maka
motivasinya akan kuat untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Sebagai misal,
seseorang yang mempunyai kebutuhan berprestasi, maka akan terdorong
untuk menetapkan tujuan yang penuh tantangan, dan ia akan bekerja keras
untuk mencapai tujuan tersebut serta menggunakan keahliannya untuk
mencapainya.
e. Teori Motivasi-Higiene (Hygiene-Motivation Theory)
Frederick Herzberg mengemukakan dua faktor tentang motivasi. Faktor itu
adalah faktor yang membuat orang merasa tidak puas dan faktor
yangmembuat orang puas. Faktor yang me tidak puas lebih disebabkan
faktor higiene (ekstrinsik), yaitu kondisi di luar induvidu, seperti
upah, jaminan kerja, status, pergaulan, hubungan atasan/bawahan, dan
lain-lain. Sedang faktor yang membuat orang puas adalah faktor motivator
(intrinsik), yaitu yang berasal dari dalam induvidu itu sendiri,
seperti tantangan,rasa berprestasi,minat, rasa tanggung jawab,dan
aktualisasi diri. Model Herzberg pada dasarnya mengasumsikan bahwa
kepuasan bukanlah konsep berdimensi satu. Diperlukan dua variabel untuk
menafsirkan kepuasan kerja secara tepat . Artinya, untuk mencapai
motivasi optimum dibutuhkan dua kondisi intrinsik dan ekstrinsik yang
sama-sama memuaskan.
2. Teori Proses (Process Theory)
Teori ini menguraikan dan menganalisa bagaimana perilaku digerakkan,
didukung dan dihentikan. Yang termasuk teori ini diantaranya :
a. Teori Harapan (Expectancy Theory)
Dalam teorinya, Victor Vroom menyatakan bahwa orang memilih cara
bertingkah laku tertentu berdasarkan harapan akan apa yang akan
diperoleh dari setiap tindakannya. Semakin kuat harapannya,semakin
tinggi motivasi untuk bertindak. Sebaliknya, semakin kecil harapannya,
semakin menurun motivasi untuk melakukan tindakan tertentu.
b. Teori Penentuan Tujuan (Goal Setting Theory)
Teori ini memusatkan pada proses penentuan sasaran diri mereka sendiri.
Menurut Edwin Locke, penggagasnya, manusia cenderung untuk menentukan
sasaran dan berjuang keras untuk mencapainya. Namun hal ini hanya akan
memotivasi jika sasaran tersebut diterima olehnya, jelas, dan terdapat
harapan yang cukup besar untuk dapat dicapai. Penelitian menujukkan,
semakin spesifik dan menantang suatu sarasan, maka semakin efektif untuk
memotivasi orang atau kelompok.
c. Teori Penguatan (Reinforcement Theory)
Dikemukaan oleh B.F. Skinner, yang mengatakan bahwa tingkah laku dengan
konsekuensi positif (penghargaan) cenderung akan diulang. Sebaliknya,
tingkah laku dengan konsekuensi negatif (hukuman) cenderung untuk tidak
diulang.
d. Teori Keadilan (Equity Theory)
Teori yang digagas oleh J. Stacy Adam ini mengasumsikan bahwa seseorang
membandingkan usaha mereka dengan orang lainnya dalam situasikerja yang
sama. Teori ini mengatakan bahwa orang dimotivasi untuk diperlakukan
secara adil. Bila ia merasa diperlakukan tidak adil, maka motivasinya
akan menurun. Sebaliknya jika merasa diperlakukan adil, maka motivasinya
akan bertambah.
Sekarang ini, penerapan motivasi telah mengalami berbagai modifikasi.
Para ahli yang bergelut dalam bidang praktisi motivasi telah membuat
berbagai kiat agar teori motivasi menjadi mudah digunakan. Namun
dasarnya tetap sama, yakni berdasarkan berbagai teori yang telah
dikemukaan di atas.
Teori amat berguna untuk diketahui dalam rangka menerapkan suatu
aplikasi tertentu di lapangan. Namun teori bukanlah segalanya, la masih
dapat diperdebatkan, dipertentangkan dan diabaikan, la tidak bernilai
mutlak. Karena itu, penerapannya perlu disesuaikan dengan situasi dan
kondisi yang ada.